Khamis, 31 Oktober 2013

kang abik

3 February 2008

Kang Abik penulis Ayat-Ayat Cinta

Habiburrahman El-Shirazy, penulis novel laris Ayat-Ayat Cinta, Sabtu (23/2), membagikan pengalamannya sebagai penulis. Melalui karya-karyanya, Habiburrahman ingin menyebarkan 'virus' cinta kepada sesama sekaligus berdakwah.

Kehadiran Habiburrahman El-Shirazy (31) mejadi daya tarik tersendiri bagi para pelajar sekolah menengah atas di Perpustakaan Kota Malang. Para remaja ini ingin melihat dari dekat Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman El Shirazy, yang sangat fenomenal di dunia sastra islami. Anak-anak muda kota dingin ini pun ingin mengetahui kiat-kiat Kang Abik dalam menulis cerpen, puisi, drama, atau novel.

"Alhamdulillah, akhirnya aku ketemu Kang Abik. Orangnya cool banget," ujar Santi, pelajar sebuah SMA negeri di Malang. Para pelajar ini rata-rata sudah membaca Ayat-Ayat Cinta, novel terlaris di Indonesia, yang baru saja difilemkan itu.

Dalam paparannya, Habiburrahman mengatakan bahwa siapa saja punya potensi menjadi seorang penulis. Penulis apa saja, tak harus cerpen atau novel. Kang Abik mengutip sebuah pepatah yang mengatakan, kalau azab itu kuat, jalan akan terbuka lebar.

"Intinya di sini adalah niat yang harus dikuatkan," kata pria yang lahir di Semarang pada 30 September 1976 itu.

Pada 1990-an Kang Abik sudah malang melintang di dunia kesusastraan di Surakarta, Jawa Tengah. Ia beroleh banyak penghargaan mulai dari lomba baca puisi, pidato bahasa Arab, hingga karya ilmiah remaja. Kang Abik kian produktif ketika studi di Kairo. Di ibukota Mesir itu dia menulis beberapa naskah drama bernapaskan Islam dan sekaligus menjadi sutradara. Di antaranya, Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (2000), Darah Syuhada (2000).

Namun, novel Ayat-Ayat Cinta yang diterbitkan pada 2004 paling fenomenal karena laris manis di pasaran. Oplah novel pop ini sudah lebih dari 300 ribu eksemplar dan terus bergerak naik di pasar buku tanah air. Sastrawan senior Taufiq Ismail sampai geleng-geleng kepala, mengapresiasi prestasi Kang Abik. "Anak ini benar-benar membuat sejarah di dunia kesusatraan kita," puji Taufiq.

Dampak ekonominya sangat nyata. Kang Abik tak ayal menjadi miliarder baru berkat kepiawaiannya mengolah kata. Betapa tidak. Royalti Ayat-Ayat Cinta tak kurang dari Rp 1,5 miliar. Kemudian royalti buku-buku lain sedikitnya Rp 100 juta per judul. Luar biasa!

Nah, kepada pelajar di Kota Malang, suami Muyasaratun Sa'idah ini memaparkan bahwa berdasarkan pengalamannya, menjadi penulis itu sebuah proses yang panjang. Tidak bisa instan atau muncul tiba-tiba. Kang Abik mengaku mulai tertari di dunia tulis-menulis saat duduk di bangku sebuah madrasah aliyah di Solo. Itu pun sebatas menjadi pengisi rubrik di majalah dinding (mading) sekolah. Lalu, lahirlah karya-karya lain sampai akhirnya tercipta novel Ayat-Ayat Cinta yang meledak hebat itu.

"Sampai saat ini saya tidak pernah puas dengan karya-karya saya. Tapi, dari sekian banyak karya, Ayat-Ayat Cinta inilah yang penuh perjuangan," ujarnya.

Menurut Kang Abik, apa pun profesi atau pekerjaan seseorang, semua harus diawali dengan niat yang baik. Niat ini membangkitkan motivasi untuk meraih keberhasilan di bidang apa pun. "Semua kembali lagi pada niat. Kalau yakin, pasti ada saja jalan keluar. Insya Allah," ujar pria yang juga dikenal sebagai ustadz itu.

Lalu, bagaimana dengan novel Ayat-Ayat Cinta? Sayang, Kang Abik enggan membeberkan secara gamblang baik novel maupun filmnya. "Secara global Ayat-Ayat Cinta adalah sebuah pesan bagi para pelajar untuk mencintai prestasinya. Berlaku akhlaqul karimah dan memiliki toleransi tinggi," katanya, diplomatis.

Sekadar mengingatkan, Ayat-Ayat Cinta ini berisi cerita cinta layaknya novel remaja lainnya. Hanya saja, Kang Abik sebagai pendakwah memoles ceritanya dalam sudut pandang Islam yang sangat kental. Novel dakwah lah!

Syahdan, Fahri bin Abdillah, pelajar Indonesia studi di Al Ahzar, Mesir, bertetangga dengan Maria Girgis di sebuah flat. Meski beragama Kristen Koptik, Maria mengagumi Alquran. Gadis itu pun menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang, cinta Maria hanya tercurah dalam diari saja.

Gara-gara novel ini, Kang Abik kebanjiran undangan ceramah dan diskusi bedah buku. Ada yang mengundangnya semata-mata untuk mengisi pengajian, ada juga yang sengaja menyelipkan jadwal ceramah di tengah acara bedah buku dan talkshow. "Pernah di Palembang, dalam dua hari saya harus mengisi delapan acara baik bedah buku dan talkshow maupun mengisi ceramah agama," tutur peraih Pena Award 2005 itu.

Mengenai sumber ide, Kang Abik mengaku bisa datang dari mana dan di mana saja. Ide sering muncul tanpa diundang. Misalnya, saat sedang duduk sendiri, bersenda gurau, pengalaman pribadi, atau pengalaman orang lain. Menulis dari pengalaman pribadi, kata dia, akan lebih mudah. Selain benar-benar menjiwai, penulis juga bebas mengeskpresikan atau menata alur cerita. Sehingga, isi cerita akan terasa lebih nyata.

Kang Abik membuktikan bahwa orang bisa kaya-raya dengan menjadi pengarang. Nah, siapa yang mau mengikuti jejak sang ustadz muda ini?

Kesudian anda ke sini amat dihargai. Jangan serik untuk kembali. Terima kasih.

Jumaat, 27 September 2013

Apabila Lailatul Qadar Bertukar Tarikh....

Sudah penghujung bulan Zulkaedah. Tidak lama lagi akan muncul ZulHijjah. Datanglah pula Hari Raya Iduladha, raya haji.

TV pun akan siarkan drama yang cukup menyentuh hati, penuh iktibar, menginsafkan....... Biasalah.

Cuma untuk raya ini, kalau sempat menonton, saya mahukan drama yang skripnya tidak menunjukkan kekurangan semua pihak yang terbabit, terutama penulis skripnya.

Cukuplah dengan dua drama yang sempat ditonton pada musim raya Idulfitri dahulu. Kalau boleh janganlah dinampakkan kemalasan penulis serta kemudiannya pengarah dan pelakon melakukan kerja rumah.

Dalam satu drama yang saya terlupa tajuknya, lakonan watak sampingan oleh Den Wahab, saya teresak-esak menangis, kerana kasihankan semua anggota produksi.....


Bayangkan, di dalam satu babak, seorang pakcik , sedang di meja makan bersama anak-anak saudara yang dijaganya dengan baik, meminta mereka mendoakan agar dapat bertemu emak yang telah lama hilang, kerana sebab-sebab tertentu. "Malam ini 17 Ramadan, "kata pakcik itu, lebih kurang," berdoalah sempena Lailatul Qadar supaya kamu boleh berjumpa dengan emak kamu....."

Lailatul Qadar pada malam 17 Ramadan? Setahu saya tarikh itu adalah malam turunnya Al Quran - sesetengah negeri mengambil cuti sempena itu. Menurut ustaz, Lailatul Qadar berada dalam 10 terakhir Ramadan - terutama pada malam-malam yang ganjil: 21,23, 25, 27 dan 29..... Tak tahulah samada ustaz silap atau saya yang silap dengar semasa mengadap ustaz....

Dalam satu drama yang saya ingat tajuknya, Pengawal Hatiku, ada seorang perempuan bermisai berjambang - lakonan Noorkhiriah -  yang menjadi pengawal keselamatan. Lupakan sebab tumbuhnya bulu di muka kaum Hawa itu. Lupakan juga liku-liku perjalanan hidup semua watak yang sesekali rasanya memaksa saya untuk menangis juga walaupun kata anak buah, itu drama semi-komedi.


Di hujung cerita, bos kepada pengawal itu tidak mengecam wajah pekerjanya yang tidak lagi banyak bulu diwajahnya. Apabila ditimbulkan hal itu, maka secara tenang si pekerja menjawab [sekali lagi, lebih kurang] "Bulan puasa dulu saya tidak cukur. Takut berdarah. Takut batal Puasa....."

Benarkah berdarah di muka akan menyebabkan puasa kita batal?

Sekali lagi saya bimbang kalau silap dengar dari ustaz dahulu.....

Hmmm!
Kesudian anda ke sini amat dihargai. Jangan serik untuk kembali. Terima kasih.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails