Khamis, 31 Oktober 2013

kang abik

3 February 2008

Kang Abik penulis Ayat-Ayat Cinta

Habiburrahman El-Shirazy, penulis novel laris Ayat-Ayat Cinta, Sabtu (23/2), membagikan pengalamannya sebagai penulis. Melalui karya-karyanya, Habiburrahman ingin menyebarkan 'virus' cinta kepada sesama sekaligus berdakwah.

Kehadiran Habiburrahman El-Shirazy (31) mejadi daya tarik tersendiri bagi para pelajar sekolah menengah atas di Perpustakaan Kota Malang. Para remaja ini ingin melihat dari dekat Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman El Shirazy, yang sangat fenomenal di dunia sastra islami. Anak-anak muda kota dingin ini pun ingin mengetahui kiat-kiat Kang Abik dalam menulis cerpen, puisi, drama, atau novel.

"Alhamdulillah, akhirnya aku ketemu Kang Abik. Orangnya cool banget," ujar Santi, pelajar sebuah SMA negeri di Malang. Para pelajar ini rata-rata sudah membaca Ayat-Ayat Cinta, novel terlaris di Indonesia, yang baru saja difilemkan itu.

Dalam paparannya, Habiburrahman mengatakan bahwa siapa saja punya potensi menjadi seorang penulis. Penulis apa saja, tak harus cerpen atau novel. Kang Abik mengutip sebuah pepatah yang mengatakan, kalau azab itu kuat, jalan akan terbuka lebar.

"Intinya di sini adalah niat yang harus dikuatkan," kata pria yang lahir di Semarang pada 30 September 1976 itu.

Pada 1990-an Kang Abik sudah malang melintang di dunia kesusastraan di Surakarta, Jawa Tengah. Ia beroleh banyak penghargaan mulai dari lomba baca puisi, pidato bahasa Arab, hingga karya ilmiah remaja. Kang Abik kian produktif ketika studi di Kairo. Di ibukota Mesir itu dia menulis beberapa naskah drama bernapaskan Islam dan sekaligus menjadi sutradara. Di antaranya, Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (2000), Darah Syuhada (2000).

Namun, novel Ayat-Ayat Cinta yang diterbitkan pada 2004 paling fenomenal karena laris manis di pasaran. Oplah novel pop ini sudah lebih dari 300 ribu eksemplar dan terus bergerak naik di pasar buku tanah air. Sastrawan senior Taufiq Ismail sampai geleng-geleng kepala, mengapresiasi prestasi Kang Abik. "Anak ini benar-benar membuat sejarah di dunia kesusatraan kita," puji Taufiq.

Dampak ekonominya sangat nyata. Kang Abik tak ayal menjadi miliarder baru berkat kepiawaiannya mengolah kata. Betapa tidak. Royalti Ayat-Ayat Cinta tak kurang dari Rp 1,5 miliar. Kemudian royalti buku-buku lain sedikitnya Rp 100 juta per judul. Luar biasa!

Nah, kepada pelajar di Kota Malang, suami Muyasaratun Sa'idah ini memaparkan bahwa berdasarkan pengalamannya, menjadi penulis itu sebuah proses yang panjang. Tidak bisa instan atau muncul tiba-tiba. Kang Abik mengaku mulai tertari di dunia tulis-menulis saat duduk di bangku sebuah madrasah aliyah di Solo. Itu pun sebatas menjadi pengisi rubrik di majalah dinding (mading) sekolah. Lalu, lahirlah karya-karya lain sampai akhirnya tercipta novel Ayat-Ayat Cinta yang meledak hebat itu.

"Sampai saat ini saya tidak pernah puas dengan karya-karya saya. Tapi, dari sekian banyak karya, Ayat-Ayat Cinta inilah yang penuh perjuangan," ujarnya.

Menurut Kang Abik, apa pun profesi atau pekerjaan seseorang, semua harus diawali dengan niat yang baik. Niat ini membangkitkan motivasi untuk meraih keberhasilan di bidang apa pun. "Semua kembali lagi pada niat. Kalau yakin, pasti ada saja jalan keluar. Insya Allah," ujar pria yang juga dikenal sebagai ustadz itu.

Lalu, bagaimana dengan novel Ayat-Ayat Cinta? Sayang, Kang Abik enggan membeberkan secara gamblang baik novel maupun filmnya. "Secara global Ayat-Ayat Cinta adalah sebuah pesan bagi para pelajar untuk mencintai prestasinya. Berlaku akhlaqul karimah dan memiliki toleransi tinggi," katanya, diplomatis.

Sekadar mengingatkan, Ayat-Ayat Cinta ini berisi cerita cinta layaknya novel remaja lainnya. Hanya saja, Kang Abik sebagai pendakwah memoles ceritanya dalam sudut pandang Islam yang sangat kental. Novel dakwah lah!

Syahdan, Fahri bin Abdillah, pelajar Indonesia studi di Al Ahzar, Mesir, bertetangga dengan Maria Girgis di sebuah flat. Meski beragama Kristen Koptik, Maria mengagumi Alquran. Gadis itu pun menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang, cinta Maria hanya tercurah dalam diari saja.

Gara-gara novel ini, Kang Abik kebanjiran undangan ceramah dan diskusi bedah buku. Ada yang mengundangnya semata-mata untuk mengisi pengajian, ada juga yang sengaja menyelipkan jadwal ceramah di tengah acara bedah buku dan talkshow. "Pernah di Palembang, dalam dua hari saya harus mengisi delapan acara baik bedah buku dan talkshow maupun mengisi ceramah agama," tutur peraih Pena Award 2005 itu.

Mengenai sumber ide, Kang Abik mengaku bisa datang dari mana dan di mana saja. Ide sering muncul tanpa diundang. Misalnya, saat sedang duduk sendiri, bersenda gurau, pengalaman pribadi, atau pengalaman orang lain. Menulis dari pengalaman pribadi, kata dia, akan lebih mudah. Selain benar-benar menjiwai, penulis juga bebas mengeskpresikan atau menata alur cerita. Sehingga, isi cerita akan terasa lebih nyata.

Kang Abik membuktikan bahwa orang bisa kaya-raya dengan menjadi pengarang. Nah, siapa yang mau mengikuti jejak sang ustadz muda ini?

Kesudian anda ke sini amat dihargai. Jangan serik untuk kembali. Terima kasih.

Jumaat, 27 September 2013

Apabila Lailatul Qadar Bertukar Tarikh....

Sudah penghujung bulan Zulkaedah. Tidak lama lagi akan muncul ZulHijjah. Datanglah pula Hari Raya Iduladha, raya haji.

TV pun akan siarkan drama yang cukup menyentuh hati, penuh iktibar, menginsafkan....... Biasalah.

Cuma untuk raya ini, kalau sempat menonton, saya mahukan drama yang skripnya tidak menunjukkan kekurangan semua pihak yang terbabit, terutama penulis skripnya.

Cukuplah dengan dua drama yang sempat ditonton pada musim raya Idulfitri dahulu. Kalau boleh janganlah dinampakkan kemalasan penulis serta kemudiannya pengarah dan pelakon melakukan kerja rumah.

Dalam satu drama yang saya terlupa tajuknya, lakonan watak sampingan oleh Den Wahab, saya teresak-esak menangis, kerana kasihankan semua anggota produksi.....


Bayangkan, di dalam satu babak, seorang pakcik , sedang di meja makan bersama anak-anak saudara yang dijaganya dengan baik, meminta mereka mendoakan agar dapat bertemu emak yang telah lama hilang, kerana sebab-sebab tertentu. "Malam ini 17 Ramadan, "kata pakcik itu, lebih kurang," berdoalah sempena Lailatul Qadar supaya kamu boleh berjumpa dengan emak kamu....."

Lailatul Qadar pada malam 17 Ramadan? Setahu saya tarikh itu adalah malam turunnya Al Quran - sesetengah negeri mengambil cuti sempena itu. Menurut ustaz, Lailatul Qadar berada dalam 10 terakhir Ramadan - terutama pada malam-malam yang ganjil: 21,23, 25, 27 dan 29..... Tak tahulah samada ustaz silap atau saya yang silap dengar semasa mengadap ustaz....

Dalam satu drama yang saya ingat tajuknya, Pengawal Hatiku, ada seorang perempuan bermisai berjambang - lakonan Noorkhiriah -  yang menjadi pengawal keselamatan. Lupakan sebab tumbuhnya bulu di muka kaum Hawa itu. Lupakan juga liku-liku perjalanan hidup semua watak yang sesekali rasanya memaksa saya untuk menangis juga walaupun kata anak buah, itu drama semi-komedi.


Di hujung cerita, bos kepada pengawal itu tidak mengecam wajah pekerjanya yang tidak lagi banyak bulu diwajahnya. Apabila ditimbulkan hal itu, maka secara tenang si pekerja menjawab [sekali lagi, lebih kurang] "Bulan puasa dulu saya tidak cukur. Takut berdarah. Takut batal Puasa....."

Benarkah berdarah di muka akan menyebabkan puasa kita batal?

Sekali lagi saya bimbang kalau silap dengar dari ustaz dahulu.....

Hmmm!
Kesudian anda ke sini amat dihargai. Jangan serik untuk kembali. Terima kasih.

Sabtu, 31 Ogos 2013

Kerja Rumah: Keperluan Di Mana-mana....

Pernah mendengar perkataan sewindu?

Di dalam lagu Gubahanku - dari filem Lagu Untukmu {1973}- nyanyian asal Broery Marantika dan Anna Mantovani, perkataan itu digunakan. Apabila dilagukan oleh penyanyi dari Singapura dan Malaysia, sewindu itu, sedap-sedap sahaja diubah menjadi serindu. Alangkah berbeza maksudnya....

Sewindu ertinya lapan tahun mengikut edaran tahun di dalam bahasa Jawa.  Lirik lagu Gubahanku:

Setahun kita berpisah
Sewindu terasa sudah...


Maknanya walaupun baru setahun berlalu, terasa seperti sudah lapan tahun. Masakan setahun berpisah baru terasa rindu..... [Apologi untuk peminat Dato' Siti....]

Demikianlah kita.

Mengambil dari orang tetapi tidak sedikitpun memperuntukkan masa bagi mendalaminya terlebih dahulu.

Banyak lagi yang boleh dicontohkan.

baca koran - maksudnya baca akhbar - di dalam sebuah lagu Hetty Koes Endang, dengan selamba dinyanyikan oleh penyanyi tersohor kita [ di dalam satu rancangan hiburan mingguan] sebagai baca Quran......

tugu monas di dalam lagu Berdiri Bulu Romaku dari Hetty juga sesukanya ditukar kepada tugu Munah, sedangkan monas kependekan bagi monumen nasional......

Lirik Lagu Rhoma Irama - Begadang Vol 1Pernah saya catat bagaimana seorang penyanyi dari Singapura - Hamidah Ahmad - merakamkan lagu Begadang nyanyian asal Pak Haji Rhoma Irama dengan mengubah perkataan itu kepada Meradang tanpa ditukar lirik.

Peliklah ketika dilagukan:

kalau terlalu banyak meradang
muka pucat kerana darah berkurang

sedangkan lirik asalnya berbunyi:

kalau selalu banyak begadang
muka pucat karena darah berkurang

Makna begadang?

Menurut teman dari seberang, BEGADANG bermaksud:
Melakukan kegiatan tidak berguna di malam hari padahal dengan niat baik ingin mengerjakan sesuatu yang penting, sangat tidak baik untuk kesehatan.

Kerja rumah itu penting,. dik!

Kesudian anda ke sini amat dihargai. Jangan serik untuk kembali. Terima kasih.

Rabu, 31 Julai 2013

AAC

Edisi 31 Desember 2007

pengarang

Berkah Ayat-ayat Cinta Rp 1,5 Miliar
Tak ada alasan tunggal mengapa novel itu begitu laris dan, konon, memecahkan rekor best seller di Asia Tenggara.

Habiburrahman El Shirazy duduk tenang di kursi panjang, mendengarkan saran, kritik, pendapat, juga pujian dari hadirin dalam acara Bedah Buku Ketika Cinta Bertasbih 2 (KCB 2) di toko Gramedia Matraman, Jakarta, awal Desember lalu.

Penampilannya yang sederhana --mengenakan kemeja batik katun, bercelana polyester coklat susu, dan hanya bersandal --jauh dari kesan bahwa dialah penulis novel yang menikmati royalti sekitar Rp 1,5 miliar dari karya-karyanya. Salah satu karyanya, Ayat-ayat Cinta (AAC), yang diterbitkan Penerbit Republika sejak Desember 2004, bukan hanya meledak di pasar buku, tapi berkali-kali meledak. "Saya sendiri sampai lupa sudah cetakan keberapa," tuturnya tersenyum seraya melirik Tommy Tamtomo, Direktur Utama Penerbit Republika, yang duduk di sebelahnya.

Dalam catatan Tommy, sampai Desember 2007 ini AAC memasuki cetakan ke-30. Jumlahnya sekitar 300 ribu buku dan diperkirakan akan terus bertambah. "Permintaan masih terus mengalir. Bulan lalu kami mencetak 10 ribu eksemplar untuk stok pameran buku tahun depan, tapi ternyata malah sudah habis duluan," kata Tommy.

Ada momen lain yang diperkirakan akan mendongkrak lagi oplah AAC. Novel setebal 420 halaman dan dijual Rp 43.500 per buku itu telah dibuat film oleh MD Enterprais. "Saya sudah nonton preview-nya," tutur Habiburrahman yang akrab dipanggil Kak Abik atau Kang Habib pekan lalu. Dalam waktu dekat film itu akan diedarkan.

Logikanya, menurut Tommy dan Kang Habib, pasar film dan pasar buku saling mengisi. Tapi, satu hal yang membuat Tommy optimistis bahwa oplah buku itu akan bertambah pada bulan-bulan mendatang: "Banyak orang yang masih penasaran membaca Ayat-ayat Cinta."

Melihat peluang pasar yang masih terbuka itu, Tommy berencana menerbit AAC edisi luks. "Kami sudah menerbitkan edisi hard cover, dan sekarang stoknya sudah habis," ujar Tommy.

Dia mengakui, dari sisi pasar, tak ada alasan tunggal mengapa novel itu begitu laris dan, konon, memecahkan rekor best seller di Asia Tenggara. Padahal, ketika bulan-bulan awal novel itu diterbitkan, Desember 2004-Februari 2005, publikasinya sama seperti buku-buku lain terbitan Republika. Tak ada publikasi atau iklan khusus. "Kami hanya memuat iklannya di Harian Republika," tutur Tommy, mantan Pemimpin Redaksi Harian Republika itu.

Bedanya, sejak buku itu meledak di pasar sekitar Maret 2005, Kang Habib selalu sibuk diundang ke berbagai acara "Jumpa Penulis" sebagai narasumber. Nama acaranya bermacam-macam: "Jumpa Pengarang", "Bedah Buku", "Temu Penulis", atau apa pun, yang intinya novel itu memperoleh sambutan hangat di kalangan pembaca novel di berbagai kota. "Dalam dua tahun ini saya hampir tiap minggu diundang menjadi narasumber di berbagai acara seperti itu," kata Kang Habib. "Saya sampai lupa entah berapa kali naik pesawat."

Ayah dua anak --Muhammad Neil Author, 21 bulan, dan Muhammad Ziaul Kautsar, 3 bulan --kelahiran Semarang, 30 September 1976, ini tak ubahnya seorang da'i atau selebritas. "Yang namanya lulusan pondok pesantren, awalnya ngomong buku, lama-lama merembet juga ke soal agama. Bedah bukunya cuma sekali, ceramah agamanya bisa tujuh kali," tutur lulusan Madrasah Aliyah Program Khusus MAPK Solo (1995) dan belajar kitab Kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak, ini tertawa.

Di samping bolak-balik terbang dari Semarang ke berbagai kota, bahkan di luar Jawa dan luar negeri (di Hongkong), untuk menghadiri acara jumpa peulis, Kang Habib selalu disibukkan oleh kegiatan yang layaknya dilakukan selebritas: melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama. Ini bukan semacam servis sampingan, tapi sudah menjadi satu paket acara yang, apa boleh buat, tak bisa ditolak. "Dalam sebuah pameran buku, saya pernah menandatangani buku sejak sore sampai jam 09.00 malam," tuturnya.

Seusai acara bedah buku KCB 2 di toko Gramedia, Matraman, misalnya, belum sempat bangkit dari tempat duduknya, Kang Abik dikerubuti beberapa perempuan berjilbab yang sudah membeli novel itu untuk ditandatangani. Puluhan kali dia menggoreskan tanda tangan dan nama dirinya dalam huruf Arab. "Tanda tangan saya memang begitu," tutur lulusan Fakultas Ushuludin, Jurusan Hadis, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1999), ini kalem.

Anak pertama dari enam bersaudara keluarga santri pasangan H. Saerozi dan Hj. Siti Rodhiyah ini tampak sabar melayani permintaan tanda tangan para pembacanya. Di saat sibuk meladeni permintaan itu, ada saja di antara mereka yang berusaha duduk mepet-mepet di samping Kang Habib, atau pasang aksi di belakangnya, untuk dipotret bersama. Lalu, dia mengajak istri dan memangku kedua anaknya untuk berfoto ria bersama para penggemarnya. "Selain foto bersama, ketika ada acara di Gontor, sekali gebrak saya menandatangani 400-an buku," ujarnya tertawa.

Dari kontak dengan pembaca seperti itu, tak jarang berubah menjadi teman dan kemudian menjadi relasi yang akhirnya menjadi saudara dalam lingkaran pergaulan yang mesra. Bagi dia, itu adalah berkah yang wajib disyukuri dan tak terukur oleh rupiah. Ayat-ayat Cinta bukan sekadar novel atau buku. Ia membawa berkah dan rezeki yang tak disangka-sangka. "Orang tua bilang, itulah rezeki untuk anak," tuturnya. Ketika AAC sedang laris-larisnya, Februari 2006, anaknya yang pertama lahir dan diberi nama Muhammad Neil Author.

Jauh sebelum itu, September 2004, sebelum AAC dipublikasikan, dia berhajat untuk menjadikannya sebagai mahar (mas kawin). "Benar, ketika saya menikah, mahar saya adalah Ayat-ayat Cinta yang masih berupa print-out," tutur suami Muyasarotun Sa'idah yang mengaku gemar membaca karya-karya beberapa penulis di antaranya Emha Ainun Nadjib, Kuntowijoyo, dan Ahmad Tohari ini.

Sejak masih mengendap dalam kepala, AAC menyimpan beberapa cerita yang mengesankan bagi penulisnya. "Novel itu saya tulis untuk melawan kebosanan dan perasaan tidak berdaya," tutur Kang Habib yang sedang menempuh program studi Pasca Sarjana Jurusan Hadis (Akademi Pengajaran) Malaya University. Beberapa bulan setelah pulang dari Mesir (2002), dia mengalami kecelakaan lalu-lintas di Yogyakarta. Kakinya patah. "Saya dikarantina oleh ibu saya. Tak boleh keluar rumah. Saya bosan bukan main dan merasa tak berdaya" tuturnya.

Untuk melawan kebosanan itulah, dia berbuat sesuatu untuk membangkitkan semangat hidupnya. "Saya buka komputer dan coba-coba menulis. Eh… ketemulah file lama saya," ceritanya. File itu adalah sebuah cerpen berjudul Suatu Hari di Musim Panas, yang pernah dia tulis saat kuliah di Kairo. Karena judulnya dirasa tidak menarik, cerpen yang baru dua lembar itu macet di tengah jalan. "Tapi, hikmah, saya dapat mood dan atmosfer musim panas. Wusss… angin musim panas Mesir terasa berembus kuat membakar semangat saya. Terus saja, saya ikuti mood itu," tuturnya bersemangat.

Di saat itulah, tiba-tiba melenting kata-kata "ayat-ayat cinta" dalam benaknya. Kata-kata itu meluncur ketika suatu hari dia membaca Al Qur'an surat Az Zuhruf ayat 67. "Saya ingat waktu itu tahun 2001. Begitu menemukan kata-kata itu, terpikir oleh saya, suatu saat saya ingin menulis cerita tentang ayat-ayat cinta," katanya. Dalam bahasa Indonesia, ayat itu berbunyi: "Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang bertakwa."

Dalam penafsiran Kang Habib, ayat itu merupakan "undang-undang" untuk saling mencintai. "Kuncinya terletak pada kata-kata 'kecuali orang-orang bertakwa.' Itu tinggi sekali maknanya," ujarnya. Begitu menemukan pintu inspirasi itu, dia mulai mengetik tanpa henti sebulan penuh. "Ketika saya print jumlahnya 313 halaman folio. Entah kebetulan atau tidak, angka itu adalah jumlah sahabat Rasulullah pada saat Perang Badar," tuturnya.

Naskah itu kemudian dia tunjukkan kepada beberapa teman penulis, antara lain Ahmad Tohari dan Ahmadun Yosi Herfanda. "Rencananya novel itu akan kami terbitkan sendiri, tapi Ahmadun mengusulkan agar dimuat dulu sebagai cerita bersambung di Harian Republika," tutur lulusan Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 The Institute for Islamic Studies in Cairo (2001) ini.

Menurut Ahmadun, redaktur budaya Republika, judul Ayat-ayat Cinta punya daya tarik tersendiri. "Sebelum membaca isinya, saya sudah tertarik judulnya," katanya. Ceritanya juga sangat layak dimuat sebagai cerita bersambung. "Islami romantis, yang tokohnya bisa diteladani." Kisahnya tentang seorang mahasiswa Indonesia bernama Fahri yang kuliah di Al Azhar, Cairo. Dia pintar, rajin, ramah, taat beragama, aktivis kampus, dan romantis pula. Ceritanya berpilin antara tokoh utama yang dicintai gadis-gadis --Maria, Noura, Nurul, dan muslimah jelita bercadar ketuturan Jerman-Turki bernama Aisha.

Dalam sastra Indonesia, novel semacam itu sebenarnya masuk pada genre sastra pop. Bagi Kang Habib, novel itu mau dimasukkan atau digolongkan sastra apa pun tidak masalah. "Saya menulis mengkuti 'rumus umum' yang berlaku di pesantren," tuturnya. Rumus dalam bahasa Arab itu berbunyi khotibu annas 'ala qodri uqulihim. Terjemahan bebasnya kira-kira "bicaralah sesuai kemampuan orang yang kamu ajak bicara." Menurut Kang Habib, itu kunci komunikasi. "Jadi, saya menulis agar mudah dipahami oleh segmen pembaca," katanya.

Baru beberapa hari AAC dimuat Republika (April 2004), kata Ahmadun, banyak saran dari pembaca agar diterbitkan. "Publikasi pun menular dari mulut ke mulut. Dan, itu besar sekali pengaruhnya," ujarnya. Pada saat yang sama, Kang Habib juga menerima permintaan dari beberapa penerbit. "Saya bilang pada mereka, 'maaf, sudah ada yang minang duluan'," tuturnya tersenyum.

Bagi Penerbit Republika, AAC juga membawa berkah tersendiri. Popularitas AAC mengatrol buku-buku lain, terutama karya-karya Kak Abik, yang sebelumnya diterbitkan oleh Pesantren Karya dan Wirausaha, Basmala Indonesia, Semarang, pesantren yang didirikan oleh Kang Abik. Pudarnya Pesona Cleopatra, Di Atas Sajadah Cinta, disusul Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2, adalah sebagian buku yang masuk deretan best seller.

Untuk tiap buku AAC, menurut Tommy, Kang Habib menerima royalti 12 persen dari harga jual. "Ditotal dengan buku-buku yang lain, jumlahnya sekitar Rp 1.5 miliar," kata Tommy. "Dalam beberapa bulan ini, tiap bulannya kami mengirim royalti Kang Habib Rp 100 juta." Kang Habib yang duduk sebelahnya tersenyum dan mengangguk-angguk pelan. "Uang itu sebagian sudah kami belikan tanah untuk pesantren dan sekolah di Semarang," kata Kang Habib menimpali.

Dia bercerita, pekan-pekan ini sedang menunggu kabar dari penerbit di Kanada dan Autralia. "Setelah diterjemahkan dalam bahasa Malaysia, novel itu rencananya juga akan diterbitkan di Kanada dan Australia. Sudah ada pembicaraan, tapi belum putus," ujarnya.

Jika tak ada aral melintang, Januari 2008, akan ada acara Napak Tilas Ayat-ayat Cinta ke Mesir. Dengan membayar 1.200 dolar, peserta wisata dapat mengunjungi beberapa lokasi yang dijadikan setting cerita AAC. "Ide itu datang dari para pembaca juga dan sudah banyak yang mendaftar," kata Tommy. Momennya sekalian memanfaatkan pameran buku internasional di Kairo.

EH Kartanegara
Kesudian anda ke sini amat dihargai. Jangan serik untuk kembali. Terima kasih.

Khamis, 27 Jun 2013

Syaikh Muhammad Nuruddin Dan Lagu Bunga Hati


Saya menggemari kuliah Al-Fadhil Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki baik di tv, Youtube, vcd  serta secara langsung ketika di  Masjid AlBukhori, Alor Setar.


Bersahaja dia mengupas dan memperinci persoalan. Wajahnya serius tetapi ada sesekali dengan ungkapan sinis berbaur lucu menegur atau berkisah tentang sesuatu. Namun lucunya tidaklah sehingga mengundang dekahan tawa audien seperti yang dihidangkan oleh beberapa ustaz popular di kalangan masyarakat kita kini. Memadai dengan senyum terpukul.....

Hari ini, paling saya terkenang bagaimana Syaikh berasal dari Banjarmasin, Kalimantan itu bernyanyi di dalam satu kuliahnya di TV AlHijrah tidak lama dulu. Ketika itu, beliau berkisah tentang kekhusyukan di dalam solat.

Beliau menyanyikan dua rangkap lagu yang sejak lama saya pernah dengar dan ikuti perlahan... Sebuah lagu saduran dari lagu dalam filem Hindi - Sasural - yang dihasilkan setahun selepas kelahiran Syaikh (1960)....

Tajuk lagu asalnya Teri Pyari Pyari Soorat Ko. Tidak diketahui siapa yang mula merakamkan lagu saduran tersebut, tetapi besar kemungkinannya penyanyi dari negara asal Syaikh, kerana saya pernah mendengar versi itu. Namun setakat ini carian dari Youtube cuma menemukan hasil nyanyian penyanyi yang mendapat jolokan Mohd Raffi Singapura - Hussien Marican.  Syaikh berkata bahawa penyanyi yang dilihatnya itu sampai berlinang airmata tatkala mendendangkannya - suatu tanda penghayatan yang baik. 

Lagu berkenaan adalah Bunga Hati.


 Mendengar lantunan lagu darinya, saya terkedu. Tidak sangka Syaikh berusia 53 tahun itu mampu mengingat liriknya dengan jelas, terutama pada bahagian:

walau berjuta bunga indah 
datang menggoda dan merayu
untuk memikat diriku ini
tak mungkin kuterpedaya

kerana cintaku kepadamu
sungguh suci dan mulia
duhai kasih......


Khusyuk serta kesungguhan dalam solat, kata beliau, seperti lirik lagu itulah, tidak peduli apa yang lain - godaan apa pun. Siap menangis lagi.....

Sejak itu minat saya untuk mendengar kuliah Syaikh - yang dahulunya, kerana tidak jemu mengajar penuntut Nusantara, terutamanya,semasa di Universiti Al Azhar itu sehingga digelar Azharuth - Thani, yakni Al Azhar Kedua - semakin mendalam. Beliau terbukti luas pengalaman serta bijak menyesuaikan diri untuk mudah difahami bicaranya.....

Bukan satu jalan untuk menyampaikan ilmu.......
Kesudian anda ke sini amat dihargai. Jangan serik untuk kembali. Terima kasih.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails