Selasa, 14 Oktober 2014

Dr M: Bukan Seperti Yang Anda Sangka


Photo: #media #konvo #uthm

Penganugerahan Ijazah Kehormat Doktor Falsafah Pembangunan Insan buat Datuk Dr. Haji Misbun Sidek oleh Universiti Tun Hussein Onn semalam telah mendapat paparan media termasuk Mingguan Malaysia dan akhbar arus perdana cina hari ini. Terima kasih BERNAMA dan Unit PRO UTHM atas kerjasama diberikan.
Saya terharu dan bersetuju sekali dengan penganugerahan Ijazah Kehormat Doktor Falsafah Pembangunan Insan kepada Datuk Misbun Sidek oleh Universiti Tun Hussein Onn.

Selayaknya.

Beliau yang pertama di bidang sukan menerima pengiktirafan setinggi itu. Sebelum ini, arwah ayahnya,  Dato' Haji Sidek Abdullah Kamar pernah menerima pengiktirafan Ijazah Kehormat Masters daripada Universiti Putra Malaysia.

Dari bidang seni hiburan telah ada penerimanya, termasuklah Dato Dr Ahmad Nawab dan arwah Dr Hamzah Dolmat.

Sebaik maklum tentang penganugerahan itu, saya segera terbang ke masa silam. Betapa dalam jerihnya, Misbun membina nama dan maruah negara dalam dunia bulutangkis. Dipandang pelik oleh rakyat negara sendiri, dengan kesungguhannya berlatih tanpa mengira waktu, dicemuh malah, dia bangkit menumbangkan hampir semua jaguh terbilang di zamannya.


Tidak hanya corak dan cara mengekalkan stamina yang luar dari kebiasaan - terutama berjogging di tengah rembang , terik mentari - Misbun juga mencipta kelainnan dalam gaya penampilan. Generasi saya akan sentiasa mengingatnya dengan stail rambut Mohican. Ada ketika lain, tatkala rambut blonde masih agak asing di kalangan anak muda, beliau muncul di gelanggang dengan satu jalur perang sebesar tiga jari di tengah kepala yang berambut hitam. Ada seorang pemain Denmark, yang berambut perang asli, ketika bertemunya di gelanggang, sengaja melekatkan kain hitam selepar tiga jari juga di tengah kepalaya, dari hujung dahi hingga ke belakang tengkok!

Demikianlah.

Dalam bergaya, dengan ramai yang menjuih bibir, beliau tidak pun melatah di dalam gelanggang... Kejohanan di sirkit dunia ditakluki, dan kemunculannya sentiasa dinanti.
Photo: Kenangan abadi...Datuk Dr Haji Misbun Sidek bergambar kenangan selepas selesai menyampaikan ucapan sempena penganugerahan Ijazah Kehormat Doktor Falsafah Pembangunan Insan yang membawa gelaran Doktor oleh UTHM. 

Penganugerahan ini telah meletakkan namanya sebagai ahli sukan pertama negara  menerima penganugerahan tertinggi daripada pusat pengajian tinggi tanahair. Sebelum ini, ayahandanya, Allahyarham Dato' Haji Sidek Abdullah Kamar pernah menerima pengiktirafan Ijazah Kehormat Masters daripada Universiti Putra Malaysia. Syabas dan tahniah buat legenda negara, Yang Berbahagia Datuk Dr Haji Misbun.

Saya masih ingat satu perlawanan di Stadium Negara. Perlawanan akhir Piala Dunia ALBA. Lawannya adalah Lim Swee King dari Indonesia. Perlawanan tiga set, dengan set kedua dimenangi Misbun secara agak mudah. Penonton bersorak girang melihat kebangkitan setelah tewas set pertama. Menjelang waktu rehat menanti set penentuan, seorang penyokong masuk ke gelanggang, memukul lehernya. Entah dari mana datangnya peminat atau pemusnah itu.... Misbun akhirnya tewas mudah kepada Swee King....

Itu hanya yang saya kenang spontan tatkala berita tentangnya muncul pagi Sabtu lalu.

Terlalu banyak sumbangan Misbun baik sebagai pemain atau jurulatih. Bertanyalah kepada Dato' Lee Chong Wei tentang jasanya kepada pemain berkedudukan tertinggi di carta dunia itu...

Catatan ini terlalu pendek berbanding cerita sebenar yang panjang tentang sumbangan Misbun.

Photo: #news #phd #konvo #uthm #media

Datuk Dr. Misbun Sidek terkejut menerima Ijazah Kehormat Doktor Falsafah Pembangunan Insan oleh UTHM kelmarin. Ikuti teks selanjutnya di akhbar Harian Metro hari ini.Tetapi tidak mengapalah.


Saya mencatat ini sebagai tanda penghargaan ke atas Misbun dari seorang peminat sukan, yang sentiasa memerhati....

Selayaknya dia diiktiraf, ketika tenaganya masih boleh digunakan bagi mengukuhkan sukan badminton negara di mata dunia. Kita tidak jarang hanya menghargai orang setelah insan itu tidak berdaya, tidak bermaya malah tidak bernyawa! Lalu, urutannya, keluarlah ungkapan klise: Kita kehilangan sebutir bintang.....

Tahniah, Datuk Dr Misbun bin Dato' Sidek.

Anda pejuang. Anda legenda yang masih hidup.

Kini Malaysia mempunyai seorang lagi Dr M - yang terkenal....
Kesudian anda ke sini amat dihargai. Jangan serik untuk kembali. Terima kasih.

Khamis, 31 Oktober 2013

kang abik

3 February 2008

Kang Abik penulis Ayat-Ayat Cinta

Habiburrahman El-Shirazy, penulis novel laris Ayat-Ayat Cinta, Sabtu (23/2), membagikan pengalamannya sebagai penulis. Melalui karya-karyanya, Habiburrahman ingin menyebarkan 'virus' cinta kepada sesama sekaligus berdakwah.

Kehadiran Habiburrahman El-Shirazy (31) mejadi daya tarik tersendiri bagi para pelajar sekolah menengah atas di Perpustakaan Kota Malang. Para remaja ini ingin melihat dari dekat Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman El Shirazy, yang sangat fenomenal di dunia sastra islami. Anak-anak muda kota dingin ini pun ingin mengetahui kiat-kiat Kang Abik dalam menulis cerpen, puisi, drama, atau novel.

"Alhamdulillah, akhirnya aku ketemu Kang Abik. Orangnya cool banget," ujar Santi, pelajar sebuah SMA negeri di Malang. Para pelajar ini rata-rata sudah membaca Ayat-Ayat Cinta, novel terlaris di Indonesia, yang baru saja difilemkan itu.

Dalam paparannya, Habiburrahman mengatakan bahwa siapa saja punya potensi menjadi seorang penulis. Penulis apa saja, tak harus cerpen atau novel. Kang Abik mengutip sebuah pepatah yang mengatakan, kalau azab itu kuat, jalan akan terbuka lebar.

"Intinya di sini adalah niat yang harus dikuatkan," kata pria yang lahir di Semarang pada 30 September 1976 itu.

Pada 1990-an Kang Abik sudah malang melintang di dunia kesusastraan di Surakarta, Jawa Tengah. Ia beroleh banyak penghargaan mulai dari lomba baca puisi, pidato bahasa Arab, hingga karya ilmiah remaja. Kang Abik kian produktif ketika studi di Kairo. Di ibukota Mesir itu dia menulis beberapa naskah drama bernapaskan Islam dan sekaligus menjadi sutradara. Di antaranya, Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (2000), Darah Syuhada (2000).

Namun, novel Ayat-Ayat Cinta yang diterbitkan pada 2004 paling fenomenal karena laris manis di pasaran. Oplah novel pop ini sudah lebih dari 300 ribu eksemplar dan terus bergerak naik di pasar buku tanah air. Sastrawan senior Taufiq Ismail sampai geleng-geleng kepala, mengapresiasi prestasi Kang Abik. "Anak ini benar-benar membuat sejarah di dunia kesusatraan kita," puji Taufiq.

Dampak ekonominya sangat nyata. Kang Abik tak ayal menjadi miliarder baru berkat kepiawaiannya mengolah kata. Betapa tidak. Royalti Ayat-Ayat Cinta tak kurang dari Rp 1,5 miliar. Kemudian royalti buku-buku lain sedikitnya Rp 100 juta per judul. Luar biasa!

Nah, kepada pelajar di Kota Malang, suami Muyasaratun Sa'idah ini memaparkan bahwa berdasarkan pengalamannya, menjadi penulis itu sebuah proses yang panjang. Tidak bisa instan atau muncul tiba-tiba. Kang Abik mengaku mulai tertari di dunia tulis-menulis saat duduk di bangku sebuah madrasah aliyah di Solo. Itu pun sebatas menjadi pengisi rubrik di majalah dinding (mading) sekolah. Lalu, lahirlah karya-karya lain sampai akhirnya tercipta novel Ayat-Ayat Cinta yang meledak hebat itu.

"Sampai saat ini saya tidak pernah puas dengan karya-karya saya. Tapi, dari sekian banyak karya, Ayat-Ayat Cinta inilah yang penuh perjuangan," ujarnya.

Menurut Kang Abik, apa pun profesi atau pekerjaan seseorang, semua harus diawali dengan niat yang baik. Niat ini membangkitkan motivasi untuk meraih keberhasilan di bidang apa pun. "Semua kembali lagi pada niat. Kalau yakin, pasti ada saja jalan keluar. Insya Allah," ujar pria yang juga dikenal sebagai ustadz itu.

Lalu, bagaimana dengan novel Ayat-Ayat Cinta? Sayang, Kang Abik enggan membeberkan secara gamblang baik novel maupun filmnya. "Secara global Ayat-Ayat Cinta adalah sebuah pesan bagi para pelajar untuk mencintai prestasinya. Berlaku akhlaqul karimah dan memiliki toleransi tinggi," katanya, diplomatis.

Sekadar mengingatkan, Ayat-Ayat Cinta ini berisi cerita cinta layaknya novel remaja lainnya. Hanya saja, Kang Abik sebagai pendakwah memoles ceritanya dalam sudut pandang Islam yang sangat kental. Novel dakwah lah!

Syahdan, Fahri bin Abdillah, pelajar Indonesia studi di Al Ahzar, Mesir, bertetangga dengan Maria Girgis di sebuah flat. Meski beragama Kristen Koptik, Maria mengagumi Alquran. Gadis itu pun menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang, cinta Maria hanya tercurah dalam diari saja.

Gara-gara novel ini, Kang Abik kebanjiran undangan ceramah dan diskusi bedah buku. Ada yang mengundangnya semata-mata untuk mengisi pengajian, ada juga yang sengaja menyelipkan jadwal ceramah di tengah acara bedah buku dan talkshow. "Pernah di Palembang, dalam dua hari saya harus mengisi delapan acara baik bedah buku dan talkshow maupun mengisi ceramah agama," tutur peraih Pena Award 2005 itu.

Mengenai sumber ide, Kang Abik mengaku bisa datang dari mana dan di mana saja. Ide sering muncul tanpa diundang. Misalnya, saat sedang duduk sendiri, bersenda gurau, pengalaman pribadi, atau pengalaman orang lain. Menulis dari pengalaman pribadi, kata dia, akan lebih mudah. Selain benar-benar menjiwai, penulis juga bebas mengeskpresikan atau menata alur cerita. Sehingga, isi cerita akan terasa lebih nyata.

Kang Abik membuktikan bahwa orang bisa kaya-raya dengan menjadi pengarang. Nah, siapa yang mau mengikuti jejak sang ustadz muda ini?

Kesudian anda ke sini amat dihargai. Jangan serik untuk kembali. Terima kasih.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails